Denmas Jemblung, Raden Mas Suwardi Suryaningrat Putra Pangeran Suryaningrat



Pangeran Suryaningrat, yang masih keturunan Sri Sultan Hamengku Buwana II dan anak dari KGPAA Pakualaman III, memang mengidamkan anak laki-laki. Namun ia begitu kecewa ketika anak pertamanya lahir. Seorang anak laki-laki dengan kondisi fisik yang lemah.

Ketika lahir pada tanggal 2 Mei 1889, bayi itu kurang dari 3 kg beratnya. Masih lebih berat gas tiga-kiloan. Perutnya buncit dan suara tangisnya terlalu lembut untuk bayi lelaki. Bukan gambaran bayi yang membanggakan. Namun Pangeran yang humoris itu lantas memberi paraban atau olok-olok Jemblung, karena meski kurus perutnya buncit.
Oleh Kyai Soleman, sahabat Suryaningrat, nama Jemblung ditambahi dengan nama Trunagati. Pengasuh pondok pesantren di Prambanan itu lebih dalam melihat aura bayi. Menurutnya bayi yang lembut dan lemah itu justru nanti akan didengar orang di seluruh negeri. Sementara perut buncitnya memberi firasat kelak ia akan menyerap dan mencerna ilmu yang banyak. Bahkan setelah dewasa ia akan menjadi orang penting, sebagaimana makna nama Trunagati yang disematkan. Tapi, pada akhirnya, ketika tumbuh kanak-kanak, bayi itu lebih dikenal dengan nama Denmas Jemblung.
Demikianlah kemudian terbukti, anak kurus-kering itu menjadi manusia sakti. Sakti bisa ngilang? Bukan. Sakti karena dia berilmu, berbudi baik, welas-asih, manusia pembelajar dan tak segan berbagi pada kaum papa.
Karena nubuat Kyai Soleman? Tidak. Tetapi karena Pangeran Suryaningrat mendidiknya dengan keras. Bukan hanya dengan ujaran atau ajaran, melainkan juga memberi contoh atau tauladan, dengan perbuatan nyata, bagaimana berbuat kebaikan bagi sesama, rasa welas asih, menghormati orang lain, toleran.

Demikianlah kemudian Denmas Jemblung itu meninggalkan gelar kebangsawanannya, Raden Mas Suwardi Suryaningrat, menjadi Ki Hajar Dewantara. Seorang pemberontak dan pejuang yang gigih. Sahabat setianya, E.F. Eugene Dowes Dekker melukiskan, di dalam tubuhnya yang lemah itu bersemayamlah daya kemauan keras yang selalu dimenangkannya setiap kali ia memperjuangkan sesuatu.
Nama Ki Hajar Dewantara ditabalkannya sebelum mendirikan perguruan Taman Siswa. Denmas Jemblung membentuk semacam kelompok diskusi yang beranggotakan tokoh-tokoh politik, budayawan, dan filsuf. Forum diskusi “Selasa Kliwonan”, karena diadakan setiap malam Selasa Kliwon itu, dipimpin Ki Ageng Suryomentaram, adik Sri Sultan Hamengku Buwono VII.
Kemampuan Denmas Jemblung yang menonjol dalam ilmu keguruan dan pendidikan, membuatnya sering dipanggil Ki Ajar. Dan sebutan kelakar itu berlangsung selama 6 tahun, sebelum akhirnya Denmas Jemblung mengganti secara formal nama RM Suwardi Suryaningrat pada 23 Februari 1928, menjadi Ki Hajar Dewantara.

Ki Hajar Dewantara memang tampak kurus kering dan renta. Tapi dialah yang berani memutuskan berada di barisan depan ketika mengiring Soekarno berpidato di Lapangan Ikada Jakarta, dalam ancaman laras bedil Jepang sebelum merdeka. Kata Ki Hajar, "Jika pun aku tertembak mati, toh aku sudah pernah muda.

0 komentar:

Post a Comment